Masih di malam yang sama, kini Sera sudah berganti piyama ketika ia berdiri di depan pintu kamar Hagi. Lampu lorong redup, rumah itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran malam yang seharusnya biasa. Ia mengetuk pelan sekali, dua kali nyaris ragu.

Pintu terbuka.

Hagi muncul dengan kaos hitam polos yang sedikit melekat di bahunya, rambutnya masih setengah basah, Matanya menyipit, setengah curiga, seperti sedang mencoba membaca maksud di balik kedatangan Sera selarut itu.

“Ken—” Hagi belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

Sera langsung mendorong dadanya pelan, memaksanya mundur selangkah ke dalam kamar.

“Apaan sih,” gumamnya. “Orang pengen tidur di sini doang.”

Ia melangkah masuk tanpa izin lebih lanjut, lalu duduk begitu saja di atas ranjang Hagi, seolah tempat itu memang sudah jadi miliknya sejak lama.

Hagi terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menutup pintu. Ia berjalan melewati Sera menuju nakas di dekat cermin, menyalakan kembali hair dryernya.

Sera sudah merebahkan tubuhnya. Ranjang itu rapi dengan dua bantal yang sengaja disusun sejajar. Ia menarik selimut sampai ke atas dadanya, seperti sedang mengklaim ruang aman kecil untuk dirinya sendiri.

Diam-diam mata Sera mengikuti gerakan Hagi yang berdiri di depan cermin, merapikan rambut dengan tangan, memastikan rambutnya sudah kering.

Selesai, Hagi berjalan ke ranjang. Ia mengambil ponselnya, meletakkannya di nakas samping, lalu duduk di tepi ranjang sambil menarik selimutnya sendiri.