Hari itu terasa padat namun hangat. Suasana auditorium kampus dipenuhi gelar, toga hitam, selempang warna jurusan, serta senyum lelah tapi bahagia dari para wisudawan dan keluarga mereka.

Sera berdiri di sisi ibunya, mengenakan toga hitam dengan selempang dari jurusannya. Ara, sepupunya, sibuk memotret, kameranya tidak berhenti menekan shutter untuk menangkap momen-momen sederhana yang terasa tak ternilai.

“Ser, maaf bunda nggak bawain kamu buket ya, soalnya bunda nggak tau kalau toko depan kampus mu harus pesen dulu buketnya,” suara ibunya terdengar lembut, ada nada bersalah namun hangat.

Sera tersenyum tipis dan memeluk ibunya. “Nggak apa-apa, Bun. Bunda dateng aja, aku udah seneng.” jawabnya, hatinya terasa hangat. Ara, yang masih sibuk mengarahkan kamera, sesekali meminta sang ibu untuk ikut memotret mereka berdua, tertawa kecil saat Sera menyesuaikan posisi.

Di sela-sela momen itu, seorang teman sekelasnya memanggil Sera. Mereka mengajaknya untuk berfoto resmi bersama seluruh angkatan. Sera menoleh, tersenyum singkat, lalu berjalan perlahan menuju kerumunan. Ibunya tetap mengarahkan kamera, memotret dari jauh, menangkap momen Sera yang sedang berbahagia.

Kerumunan itu penuh warna. Toga yang hitam kontras dengan bunga-bunga cerah yang dibawa beberapa keluarga, anak-anak kecil yang bersorak, dan senyum lelah tapi bahagia yang bercampur menjadi satu. Sera berjalan perlahan, bergabung dengan teman-teman sekelasnya.

Foto-foto diambil, satu demi satu, berpose tertawa, memeluk, dan menatap lensa kamera. Selesai sesi itu, mereka saling melepaskan pelukan, beberapa orang tampak menahan air mata, beberapa lainnya menahan tawa, semua terasa hangat dan berat di dada.

Di tengah keramaian itu, Sera bisa melihat Ziyan berdiri agak jauh darinya, tampak canggung, seperti tidak yakin apakah harus mendekat atau tidak. Sera menatapnya sesaat, jantungnya terasa sedikit berat. Ia tahu ini akan menjadi momen terakhir mereka berdua, terakhir untuk pertemuan yang penuh keheningan setelah pengakuan yang dulu pernah terjadi.

Ziyan melangkah maju, suara rendahnya terdengar saat ia mencoba terdengar santai. “Selamat ya, Ser.”

Sera menoleh, mengangguk pelan. Ia menghargai keberanian Ziyan untuk menyapanya setelah sekian lama. Ada rasa canggung yang mengambang di udara, rasa yang membuat keduanya tersenyum tipis namun hati tetap terasa tegang.