Begitu keluar dari ruangan dosen, mata Sera langsung menemukan Ziyan sudah menunggunya di lorong kampus. Ia tersenyum tipis melihat sahabatnya yang santai duduk di bangku, tangan sibuk mainin HP sambil menunggu.

Sera pun berjalan ke arahnya, Ziyan mendongkak tersenyum. Keduanya terasa asing dan canggung.

“Kita makan dulu yuk, gue laper,” kata Sera, dan Ziyan langsung menyetujuinya.

Mereka berjalan bersama menuju kantin, memilih tempat duduk di pojok yang sedikit sepi. Tak lama kemudian, mereka memesan mie ayamcomfort food sederhana yang rasanya selalu pas untuk obrolan panjang. Ziyan menyandarkan punggungnya ke kursi plastik kantin, menunggu dua mangkuk mie ayam yang baru saja mereka pesan. Suaranya terdengar santai, tapi matanya penuh rasa ingin tahu.

“Gimana bimbingan tadi?” tanyanya. “Aman?”

Sera menghembuskan napas pelan, menatap meja di depannya sejenak sebelum menjawab.

“Enggak,” katanya jujur. “Bu Diki minta gue ganti judul. Katanya topiknya terlalu berat, takut gue keteteran.”

Ziyan mengangguk pelan, seolah sudah menduga.

“Fair sih,” katanya. “Yang penting lu masih dikasih arah, kan.”

“Iya sih,” Sera tersenyum tipis. “Tapi gue disuruh mikir ulang. Something more… manageable.”

Beberapa detik hening, hanya diisi suara sendok dan mangkuk yang saling beradu ketika mie ayam mereka akhirnya datang. Sera lalu mengangkat wajahnya, menatap Ziyan.