Peron stasiun telah lengang ketika Sera menjatuhkan tubuhnya di kursi besi paling ujung, tepat di bawah lampu yang berpendar redup. Cahaya kekuningan itu membuat segalanya tampak pucat lantai semen yang retak, papan jadwal yang berdebu, dan bayangannya sendiri yang memanjang sendirian.
Angin malam berembus tipis membawa bau besi rel dan sisa hujan sore tadi. Udara terasa lembap, dingin, dan terlalu sepi untuk ukuran kota sebesar ini.
Ponselnya bergetar tanpa henti di genggaman. Satu pesan masuk, lalu dua, lalu berkali-kali, nyaris tanpa jeda.
Nama Ara memenuhi layar, lalu disusul dengan nama Bunda.
Seakan-akan dunia baru mengingat keberadaannya setelah semuanya terlambat. Sera menatap notifikasi itu lama, matanya kosong. Dadanya terasa seperti ditindih sesuatu yang berat. Setiap getaran kecil dari ponsel itu membuat kepalanya semakin berisik dan akhirnya ia memilih untuk mematikan ponselnya.
Seketika suasana pun sunyi dan keheningan itu terasa seperti jurang.
Sera menunduk, jemarinya perlahan melemas di atas pangkuan. Segala rasa di dalam dadanya bercampur menjadi satu sedih, marah, kecewa, hampa, seperti air keruh yang tak lagi bisa dipisahkan. Ia merasa ditipu oleh orang-orang yang selama ini ia sebut keluarga. Rumah yang ia anggap tempat pulang ternyata dibangun di atas kebohongan. Kasih sayang yang ia pegang erat rupanya berakar pada kehilangan orang lain. Namun yang paling menyakitkan justru kesadarannya sendiri.
Bahwa ia pun meninggalkan seseorang, seseorang yang telah mencari dan menunggunya.
Rahagi.
Nama itu berdenyut pelan di kepalanya seperti luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh. Ia sudah kembali ke dunia itu. Sudah berdiri di hadapan pria yang mencarinya selama bertahun-tahun. Sudah melihat sendiri bagaimana Hagi menatapnya seolah ia adalah rumah. Tapi tanpa Seta sadari, ia yang memilih pergi dan kembali menjebak dirinya ke dunia ini.
Perlahan, Sera menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Tangisnya pecah tanpa suara, hanya napas tersendat yang keluar patah-patah. Ia merasa kecil dan tersesat, ia benar-benar tidak punya siapa-siapa.