Peron stasiun telah lengang ketika Sera menjatuhkan tubuhnya di kursi besi paling ujung, tepat di bawah lampu yang berpendar redup.
Cahaya kekuningan itu membuat segalanya tampak pucat lantai semen yang retak, papan jadwal yang berdebu, dan bayangannya sendiri yang memanjang sendirian.
Angin malam berembus tipis membawa bau besi rel dan sisa hujan sore tadi. Udara terasa lembap, dingin, dan terlalu sepi untuk ukuran kota sebesar ini.
Ponselnya bergetar tanpa henti di genggaman.
Satu pesan masuk. Lalu dua. Lalu berkali-kali, nyaris tanpa jeda.
Nama Ara memenuhi layar. Disusul Bunda.
Seakan-akan dunia baru mengingat keberadaannya setelah semuanya terlambat.
Sera menatap notifikasi itu lama, matanya kosong. Dadanya terasa seperti ditindih sesuatu yang berat. Setiap getaran kecil dari ponsel itu membuat kepalanya semakin berisik. Akhirnya ia memilih untuk mematikan ponselnya.
Sunyi.
Dan keheningan itu terasa seperti jurang.